It’s a VW THING you wouldn’t understand

Volkswagen Type 181 / 182

Safari Kebon 18

‘Type 181’ / ‘Type 182’ is the official Volkswagen name. In Britain, it was the Trekker. The USA knew it as the Thing. We call it VW Camat in Indonesia, Kurierwagen in Germany & Pescaccia in Italy. Whatever the name though, the Type 181 / 182 was just a little, well, odd.

Safari Kebon 12Nama resmi Volkswagennya adalah ‘Type 181’ atau ‘Type 182’. Di Inggris namanya Trekker. Di Amerika disebutnya The Thing (yang artinya ‘Sesuatu’ atau ‘Anu’), Kurierwagen di Jerman & Pescaccia di Italia. Kami di Indonesia menamainya VW Camat. Apapun panggilannya, VW Type 181/182 sesungguhnya kendaraan yang memang rada tidak biasa.

Safari Kebon 1 You know a car manufacturer is struggling for ideas with a new vehicle when the best name it can come up with for it is ‘The Thing’. Nevertheless, that’s the title Volkswagen bestowed upon its 1969-1983 re-invention of the Kübelwagen, when it started importing it into the United States. Elsewhere, this quirky creation was known as the – deep breath – Mehrzweckfahrzeug/Kurierwagen (Germany), Camat (Indonesia) and Safari (Mexico). And, for the brief while it was available in the UK during 1975, The Trekker. Yet, somehow, ‘The Thing’ rather suited this very eccentric entry in Volkswagen’s catalog.

Safari Kebon 16 Safari Kebon 7Anda akan tahu bahwa sebuah perusahaan mobil sedang mengalami masalah inovasi ketika mereka menyebut sebuah produk baru mereka hanya dengan nama “The Thing’ (yaitu ‘Anu’ atau ‘Sesuatu’). Itulah nama yang diberikan oleh Volkswagen ke produk turunan dari model Kübelwagen mereka, produksi tahun 1969-1983, ketika mulai masuk ke Amerika Serikat. Di tempat lain, namanya macam-macam, semisal – ambil nafas dalam-dalam dulu – Mehrzweckfahrzeug/Kurierwagen (Jerman), Camat (Indonesia), Safari (Mexico) dan The Trekker (di Inggris, tahun 1975). Meskipun begitu, nama ‘The Thing’ lebih banyak dipakai di dalam katalog Volkswagen.

 Safari Kebon 10 Safari Kebon 9

That the slabby and corrugated Type 181 / 182 (denoting left and right-hand drive models respectively) looked like a Kübelwagen was no accident, for it took the go-anywhere utilitarian World War II machine as its design vision. Volkswagen had been approached in the 1950s to produce such a vehicle for the West German armed forces but had declined. In the more affluent 1960s though, with basic but fun ‘lifestyle’ vehicles very trendy, it said yes when asked again to come up with a lightweight, fighting off-roader. Beyond the called-for military applications, Volkswagen could now see a leisure market for such a machine. After all, it had worked for the Jeep, hadn’t it? And wasn’t the Beetle-based Dune Buggy also popular in the USA at the time? What could possibly go wrong?

Safari Kebon 8 Safari Kebon 3Bentuk Type 181 (yang setir kiri) /182 (yang setir kanan) yang kotak & ‘berprofil’ yang mirip Kübelwagen bukanlah kebetulan, karena kendaraan yang bandel & populer di Perang Dunia II tersebut memang dijadikan acuan desain. Di tahun 1950an, Volkswagen telah diminta untuk membuat kendaraan serupa untuk angkatan bersenjata Jerman Barat tetapi tak ada minat. Di tahun 1960an, ketika gaya hidup berkendaraan yang sederhana tetapi menyenangkan sedang trendi, Volkswagen kembali diminta untuk membuat suatu kendaraan sejenis off-roader ringan & jawabannya adalah YA. Volkswagen melihat bahwa penggunaan kendaraan ini tidak sebatas di dunia militer saja, tetapi juga dapat dipakai di kalangan lebih luas. Contoh yang jelas adalah Jeep. Juga pada waktu itu kendaraan Dune-Buggy yang dibangun dari platform Beetles sedang populer di Amerika Serikat. Jadi apa lagi masalahnya?

 Safari Kebon 2 Safari Kebon 5

”A body that looked like it had been knocked together by a toddler.“
“Bentuk mobil yang seperti baru dibuat oleh seorang anak kecil.”

The Type 181 used the engine, transmission and mechanics from the Beetle, plus the rear suspension of the Split Screen Bus, mounted on a wider Karmann Ghia convertible chassis for extra strength and stability. A body that looked like it had been knocked together by a toddler out of cardboard boxes was then plonked on top. Actually, there was method in the austere madness, for the Type 181 had to be tough, yet simple, and easy to work on under the tricky circumstances of unpleasant people trying to kill you. For example, the dashboard was hinged, meaning that if the electrics went wrong it could be flipped open so they could easily be tinkered with. The original Kübelwagen had excelled itself from the frozen wastes of Russia to the scorching sands of North Africa, so all Volkswagen really needed to do was update it. Options such as a limited slip differential made the Type 181 even more adept off road, especially considering it stuck to two-wheel drive instead of four. However, the vehicle was so lightweight that being an axle short in the traction department didn’t really matter. And if you needed to shed more pounds, the flat doors could simply be pulled off their hinges.

Safari Kebon 6 Safari Kebon 4Type 181 menggunakan mesin, transmisi & mekanikal dari Beetle, sementara suspensi belakang dari VW Dakota lalu dipasang pada sebuah sasis konvertibel Karmann Ghia yang lebih lebar untuk menambah kekuatan & stabilitas. Lalu badan mobil yang kelihatannya seperti buatan anak kecil dari kardus bekas di pasang di atasnya. Type 181 dibuat agar tangguh tetapi tetap sederhana. Misalnya, dashboardnya dipasang dengan engsel, jadi kalau ada masalah dengan kelistrikan di dalamnya, dashboard dapat mudah dibuka & perbaikan dapat mudah & cepat dilakukan. Kübelwagen telah terbukti tangguh di medan beku di Russia sampai ke padang pasir membakar di Afrika Utara, jadi apa yang Volkswagen harus lakukan hanya mengupdatenya saja. Opsi ‘limited slip differential’ membuat Type 181 lebih tangguh di medan off-road, walaupun tetap hanya berpenggerak dua roda, bukan empat roda. Mobil ini juga sangat ringan sehingga dua poros roda sudah cukup. Dan kalau diperlukan menambah muatan, keempat pintu dapat dengan mudah dicopot dari engselnya.

1686_Thing_totalProduction got under way in Germany in 1969, albeit with everything destined for NATO forces. Civilian sales kicked off in 1971 in mainland Europe and Mexico, the latter country having started building what it christened the Safari in 1970. The close proximity of its big northern neighbor meant US imports could begin the following year. However, as General Motors owned the rights to the Safari name in the States, another had to be dream up. And so, ‘The Thing’. Yep, somebody obviously wasn’t trying very hard that day.

01f6e86993f96fa6bad5008628e0fa03Produksi dimulai di Jerman tahun 1969 & seluruhnya dikirim ke NATO. Versi sipil mulai dijual tahun 1971 di Eropa daratan & Mexico. Di Mexico inilah Type 181 mulai dibuat di tahun 1970 & dinamai Safari. Eksport ke Amerika Serikat dimulai setahun kemudian. Tetapi perusahaan General Motors sudah mempunyai hak patent dengan model mobil bernama Safari di AS. Lalu kemudian nama ‘The Thing’ dipakai. Tidak perlu susah-susah mencari nama yang wah.

Phantom viewBritain got the Type 181 in 1975, and also didn’t know what to call it, so VW (GB) Ltd. ran a competition, for which the name ‘Trekker’ was plucked as the winner. However, because sales were so poor that the Type 182 was withdrawn from the UK before the year was out. Perhaps it looked just a little bit too much like something the bad guys always drove in old war movies for Blighty’s tastes? It also vanished from the USA at the same time, thanks to safety regulations about the windscreen being too close to the occupants. Of course, you could always fold the front window flat…

Type 181 2VW Safari masuk ke Inggris di tahun 1975 & juga sama-sama bingung menentukan namanya. Kemudian VW (GB) Ltd. mengadakan sayembara untuk menentukan namanya & lalu terpilihlah nama ‘Trekker’. Sayangnya Trekker ini tidak laku sehingga ditarik dari pasar Inggris belum sampai setahun. Mungkin karena bentuknya yang sangat menyerupai kendaraan yang dipakai tokoh-tokoh jahat di film-film perang (yaitu pihak Nazi Jerman)? ‘The Thing’ juga ditarik di AS di tahun yang sama, gara-gara peraturan keselamatan baru yang mengatur jarak aman penumpang ke kaca depan. Walaupun sebenarnya Anda bisa melipat kaca depan itu…

Sales to the public ceased completely in 1980, although NATO and other armed forces continued to purchase military-spec ones up until 1983. By that time, 90,785 Type 181 / 182s had been made. Its successor was the even more aesthetically challenged, but at least four-wheel drive, Volkswagen Iltis, which inspired the Audi Quattro.

Thing ad 1Penjualan Type 181 ke publik dihentikan di tahun 1980, sementara versi militernya masih tersedia untuk NATO & angkatan bersenjata banyak negara lain sampai tahun 1983. Sampai masa itu, tercatat sebanyak 90,785 Type 181/182 yang telah dibuat. Penerusnya kendaraan berpenggerak empat roda, Volskwagen Iltis, yang lalu menginspirasi Audi Quattro yang terkenal.

VW Safari in Indonesia – VW Safari di Indonesia

PT Garuda Mataram Motor Company supplied VW Safari to Indonesian Army from 1972 in limited quantity, then in large number in 1973-74 until the contract ended in 1975.
Garuda Mataram Motor Company memasok kebutuhan kendaraan jeep VW Safari ke TNI-AD mulai tahun 1972 dalam jumlah terbatas, pada pertengahan 1973 sampai 1974 dalam jumlah besar, dan sisa kontrak pengadaan pada tahun 1975.

11698632_10205698637958166_2185802043861032255_n

A file photo of an Indonesian Army soldier (wearing civilian) with a VW Safari. No information regarding place & date but estimated in 1972-73 – Foto prajurit TNI-AD (dengan pakaian sipil) di depan kendaraan dinas jeep VW Safari. Tidak ada keterangan tempat dan kapan foto ini dibuat, diperkirakan antara sekitar tahun 1972 dan 1973.

VW Safari used in Indonesian Army is actually the civilian version colored in green army.
Berbeda dengan versi militer yang digunakan oleh Bundeswehr, dimana dilengkapi dengan berbagai peralatan militer standard NATO, maka VW Safari yang digunakan TNI-AD tidak dilengkapi dengan perlengkapan standard militer tersebut karena fungsinya hanya sebagai kendaraan dinas perwira menengah di jajaran TNI-AD. Jadi VW Safari yang digunakan oleh TNI-AD adalah versi sipil yang diberi warna hijau tentara.

In October 1974, Solichin GP (the West Java Governor) received 60 units of VW Safari from Col. Arifin Adil, a Director of PT Garuda Mataram. These cars then were distributed among 19 Regencies in West Java. The price of VW Safari at that time was Rp 2,850,000.00 paid in interest-free 3 years installments.
Pada Oktober 1974, melalui Gubernur Jawa Barat Solichin GP, Kolonel Arifin Adil selaku Direktur PT. Garuda Mataram menyerahkan 60 unit jeep Safari. Mobil-mobil Safari tersebut kemudian diteruskan untuk digunakan oleh Wedana-Wedana dari 19 kabupaten di daerah Jawa Barat. Sedangkan harga sebuah Safari ialah Rp. 2.850.000,- yang dibayar lunas secara cicilan selama 3 tahun tanpa dipungut bunga.

396153_2801276864022_1041134068_n

The delivery of brand new VW Safari from the VW dealer to the Governor of West Java in October 1974 in Bandung –  Penyerahan & uji coba Safari dari dealer VW di Bandung, PT. Motor Pon, kepada Pemerintah Daerah Jawa Barat di halaman Gedung Pakuan Jl. Otto Iskandar Dinata 1 Bandung, yang diterima langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Solichin GP pada Oktober 1974.

PT German Motor Manufacturing began to assemble new model of VW Safari to be marketed in 1975. Some CKD parts were imported from German then later from Puebla, Mexico. This was due to Type 181 was no more produced in German & all were made in Mexico.
German Motor Manufacturing mulai mengassembling Safari model terbaru, yang  dipasarkan pada tahun 1975. Sebagian Kit CKD masih didatangkan dari pabrik VW di Jerman, namun mulai 1975 kit CKD didatangkan dari pabrik VW di Puebla, Meksiko. Kebijakan ini diambil karena Volkswagen AG menghentikan produksi VW 181 di Jerman, & mengalihkan seluruhnya kepada Volkswagen de México, SA de CV.

3650_10200250089947871_1013235522_n

The assembling plant of PT German Motor Manufacturing in Tanjung Priok, Jakarta in 1974. The new Safari 1975 models are in blue color, whereas the 74 models are in orange & white – Pabrik perakitan PT. German Motor Manufacturing di Tanjung Priok, Jakarta pada 1974. Beberapa Safari model terbaru 1975 warna biru, di antara Safari warna oranye dan putih model 1974.

To support the 1977 General Election, in February 1976 the government of Indonesia ordered 3,500 units of VW Safari. It was found then that they needed more so in August 1976 they ordered 2,500 units more. Total 6,000 units!
Untuk kelancaran Pemilihan Umum (PEMILU) di tahun 1977, Pemerintah Indonesia sejak Februari 1976 telah memesan 3500 unit Safari. Ternyata jumlah itu masih kurang dan di Agustus 1976 ditambah lagi 2500 unit, sehingga jumlah total pesanan Pemerintah Indonesia menjadi 6000 unit Safari.

So in 1976, VW Safari CKD kit were ordered in large amount from Puebla plant, Mexico, to support the 1977 General Election. These cars were distributed to all ‘Camat’ (a sub-district, one level below Regency) throughout Indonesia
Maka pada 1976, kit CKD Safari diimpor dalam jumlah besar dari pabrik VW di Puebla, Meksiko untuk mobil PEMILU 1977 dan menjadi jatah bagi para Camat seluruh Indonesia.

By March 1976, PT German Motor Manufacturing had assembled 10,000 units of VW in different types.
Pada Maret 1976, PT. German Motor Manufacturing telah merakit 10.000 unit VW berbagai tipe.

A version of Safari with hardtop fiberglass cover was offered as an optional model.
Safari Hardtop ditawarkan sebagai optional mulai tahun ini karena adanya permintaan pasar & dibuat khusus oleh PT. Sakura Steel berdasarkan pesanan pembeli.

10750179_10204751437558748_2475854722498514122_o

The General Manager of PT Garuda Mataram Motor, Peter Falkenberg, is introducing the tourist version of VW Safari to an officer from the Tourism Department. The price was Rp 3.7million – General Manager PT. Garuda Mataram Peter Falkenberg didampingi pejabat dari Direktorat Jenderal Pariwisata sedang memeriksa jeep Safari khusus pariwisata. Ditawarkan dengan harga Rp. 3,700,000.00. Untuk tahap pertama dibuat 10 unit dengan warna kombinasi biru-putih dan oranye-putih di pabrik PT. German Motor Manufacturing, dengan atap surrey (dan kelengkapannya) yang diimpor langsung dari pabrik VW di Meksiko. Sayangnya karena tidak ada permintaan untuk Safari model ini, kemudian dijual sebagai Safari biasa dengan atap kanvas standard warna tan atau hitam melalui dealer-delaer VW di Pulau Jawa dan Bali

10887115_10204486595737868_5273616943011357495_o

A government parade using VW Safari in Tulungagung, East Java to support the 1977 General Election. –  Parade Safari Camat se-Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menjelang PEMILU 1977. Safari menjadi sangat popular pada PEMILU 1977 hingga sesudahnya, dengan ciri khas yang sangat mudah dikenali yaitu cat berwarna oranye serta penumpang yang terlihat gagah dengan seragam pemimpin wilayah (Camat), sehingga kemudian menjadi sangat terkenal dengan sebutan VW Camat.

10293776_10204170150386932_1831032241273195620_o

The delivery of brand new VW Safari to support the 1977 General Election to Camat in Ujung Pandang, South Sulawesi – Penyerahan mobil PEMILU 1977 kepada Camat-Camat Kota Ujung Pandang oleh Drs. H. Moehammad Said, Sekretaris Kotamadya/Daerah Tingkat II Ujung Pandang (sekarang Makassar), Sulawesi Selatan.

Safari sedang menyeberangi sebuah sungai antara Palu – Parigi di Sulawesi Tengah, sekitar April, sebelum PEMILU Mei 1977. Jarak antara Palu – Parigi yang hanya 84 km biasanya harus ditempuh dalam waktu 12 jam – jika pun kendaraannya selamat. Sebab jalur jalan yang dilalui tak lebih dari jalan setapak ditambah desakan arus sungai yang harus diseberangi langsung karena tanpa jembatan.

A VW Safari was crossing a river using a raft between Palu & Parigi, Central Sulawesi, in April 1977, in supporting the General Election. The 84km distance was achieved within 12hours –   Safari sedang menyeberangi sebuah sungai antara Palu – Parigi di Sulawesi Tengah, sekitar April, sebelum PEMILU Mei 1977. Jarak antara Palu – Parigi yang hanya 84 km biasanya harus ditempuh dalam waktu 12 jam – jika pun kendaraannya selamat. Sebab jalur jalan yang dilalui tak lebih dari jalan setapak ditambah desakan arus sungai yang harus diseberangi langsung karena tanpa jembatan.

10924191_10204717105620471_7380690031950667205_o

A brand new VW Safari, driven directly from Jakarta to Bali in October 1980. This was part of promoting tourism in Bali –  Brand new Safari yang dikirim dari Jakarta, tiba di Bali (Oktober 1980). Proses pengiriman biasanya dengan dikendarai langsung lewat jalan darat, dengan kondisi wheel dop dan kaca spion orisinal dilepas. Sedangkan Safari pada saat itu mulai populer digunakan untuk mobil pariwisata di Bali.

A Safari carrying two vintage bicycles using a custom carrier. This is a member of Komunitas Safari Bandung, one of the biggest VW Safari communities in Indonesia.

A Safari carrying two vintage bicycles using a custom carrier. This is a member of Komunitas Safari Bandung, one of the biggest VW Safari communities in Indonesia. Photo: Civoc Cirebon, Kuningan, Nov 2014  –  Sebuah VW Safari mengangkut dua buah sepeda Onthel di rak buatan sendiri. Mobil ini adalah anggota Komunitas Safari Bandung (KSB), salah satu komunitas VW Safari terbesar di Indonesia. Foto: Civoc Cirebon, Kuningan, Nov 2014…

collage-2015-08-12(1)

Two slammed custom VW Safari, Bekasi, Aug 2014 – Dua buah VW Safari ceper, Bekasi, Agustus 2014…

D3F 52

A model witn a VW Safari, VCB Padalarang, Jun 2015 – Seorang model & VW Safari di Padalarang, acara VCB, Juni 2015…

VWB 76

A rare hardtop made of fiberglass Safari, Bekasi, Aug 2014 – Sebuah VW Safari dengan atas hardtop terbuat dari fiberglass yang jarang, Bekasi, Agustus 2014…

Tjidjadoel 7

Nice VW Safari at Tjijadoel, Cimahi, May 2014 – VW Safari yang cantik di acara Tjijadoel, Cimahi, Mei 2014…

VW The Thing in popular culture

Safari Tintin

The original vehicle in the cover of Tintin’s Land of Black Gold is a red American Jeep. Here it’s a red VW Safari – Para penggemar majalah Tintin tentu kenal dengan kover ini, yaitu Tanah Emas Hitam. Tapi tunggu, bukan kah aslinya mereka mengendarai jip merah, bukan Safari merah?…

A The Thing appeared in Bart Simpson TV Series....

A The Thing appeared in Bart Simpson TV Series – Sebuah VW Safari muncul di salah satu serial TV Bart Simpson…

A group of Afghanistan tribe riding a VW Safari...

A group of Afghanistan tribe riding a VW Safari. At least they were eight of them – Para pejuang Afghanistan di atas sebuah VW Safari. Yang kelihatan ada delapan orang…

An on-line shopping advertising: a family with a VW Safari on a beach...

An on-line shopping advertising: a family with a VW Safari on a beach – Sebuah iklan belanja on-line menggambarkan sebuah keluarga dengan VW Safari di pantai…

4f23e9e6c03a14e58ae41057846618f4

A vintage black-white advertisement targeting youths in the US – Sebuah iklan hitam-putih di Amerika Serikat menargetkan kalangan muda sebagai konsumen VW Safari.

A Safari was used in a controversial documentary movie 'Act of Killing', 2012 - Sebuah VW Safari digunakan di film dokumenter yang kontroversial 'Act of Killing', 2012...

A Safari was used in a controversial documentary movie ‘Act of Killing’, 2012. Shooting location: Medan, North Sumatera – Sebuah VW Safari digunakan di film dokumenter yang kontroversial ‘Act of Killing’, 2012. Lokasi syuting: Medan, Sumatera Utara…

The music band, The Changcuters. shooting a commercial of a disposable drink - Grup musik The Changcuters sedang syuting iklan sebuah minuman kemasan...

The music band, The Changcuters. shooting a commercial of a disposable drink – Grup musik The Changcuters sedang syuting iklan sebuah minuman kemasan…

Because of the 'cabriolet style' where people can the persons in the car, VW Safari is also popular to be used for political campaign - Karena mirip cabriolet dimana penumpangnya terlihat dari luar, VW Safari juga populer untuk dipakai sebagai kendaraan kampanye politik...

Because of the ‘cabriolet style’ where people can see the persons in the car, VW Safari is also popular to be used for political campaign – Karena mirip cabriolet dimana penumpangnya terlihat dari luar, VW Safari juga populer untuk dipakai sebagai kendaraan kampanye politik…

Source: VolksWorld & Reza Warouw…

Safari Kebon 17 text

Front yard Campervan BBQ party

Halbil Karbit 11

The 1979 VW Campervan (left) & 77 double-sliding Kombi (right) at the front yard. Somewhere in Serpong.

It is a custom here in this country to celebrate Eid with your families & friends. So here we were celebrating Eid among Mechanical Engineering class of 89, Institute of Technology Bandung. We gathered in a friend’s house, the same person who has the Volkswagen town. Remember?
Sudah menjadi tradisi di negara ini untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, handai taulan & teman-teman. Maka para alumni Teknik Mesin ITB 89 pun berkumpul untuk halal bihalal di kawasan Serpong, di rumah seorang kawan yang juga pemilik Volkswagen Town. Masih ingat kan?

Halbil Karbit 10

The BBQ yard party…

Halbil Karbit 9A

Left to right (kiri ke kanan). Standing (berdiri): Wiedarto, Tammy, Akbertan, Tholchah & Heru. Sitting (duduk): Arcandra, Daud, Daniel, Eliyakim, Edu, Boris, Roby & Karbit (host). Squatting (jongkok): DS, Agu & Rendy…

We set up an outdoor BBQ party at the front yard (actually it’s a side yard) completed with two Volkswagen bus; one is Deep Purple & the other one is a 1977 VW bus owned by the host. The 77 Kombi has two sliding doors on both sides, a rare one.
Acaranya adalah bakar-bakaran (BBQ) di halaman depan (walau sebetulnya halaman samping) lengkap dengan dua buah VW Kombi; yang satu adalah Deep Purple & satu lagi Kombi 77 milik empunya rumah. Kombi 77 ini punya pintu samping di kedua sisi, model yang langka.

Halbil Karbit 8A

Left to right: Wied, Arcandra, Heru, Tholchah, Tammy, Edu, Rendy & Daniel…

Halbil Karbit 13

The oldies look photograph…

Also we set up a photo booth at the rear compartment of Deep Purple. Some dolls were arranged to create an anti-mainstream look. The models were cooperative when they were instructed to act as cute as possible. Hahaha…
Sebuah photo-booth juga kami buat di bagian belakang Deep Purple. Untuk mempercantik dekorasi yang tidak mainstream, kami tambahkan beberapa buah boneka anak-anak. Para model pun cukup kooperatif mengikuti arahan sutradara untuk bergaya manis & menggemaskan. Hahaha….

So, let’s enjoy the pictures then. (A note: most of these cute Gents are 45 years old).
Jadi silahkan dinikmati hasil foto-fotonya. (Catatan: para Bapak-Bapak yang manis-manis ini rata-rata berumur 45 tahunan).

Halbil Karbit 2A

The nice family & hospitable host; the Karbit family: Arian, Uci, Aero & Karbit…

Halbil Karbit 1ABWC

Heru, Daniel & Daud…

Halbil Karbit 5A

Agu & Tholchah…

Halbil Karbit 4A

Edu & Tammy…

Halbil Karbit 3A

Daniel & Wied…

Halbil Karbit 12A

Akbertan, Roby, Boris & Corona Extra… Kelompok Pemabuk…

Halbil Karbit 6A

Daniel, Boris & Arcandra.. Arcandra lives in Houston, TX, US…

Halbil Karbit 7A

Eliyakim…

If you are interested to rent this VW Campervan, please call +62 813 1031 4210 for inquiry.
Jika Anda berminat menyewa VW Campervan ini, mohon telepon kami di nomor +62 813 1031 4210.

Endah n Rheza n Campervan

Nivea 1

In May & June 2015, Jakarta VW Campervan supported the Nivea road show event in collaboration with the husband-wife singers Endah n Rheza. The Pink Floyd campervan was utilized after changing the color into blue, following the brand color of Nivea.
Di bulan Mei & Juni lalu, Jakarta VW Campervan ikut mendukung acara roadshow Nivea yang bekerja sama dengan pasangan penyanyi suami istri Endah n Rheza. Campervan Pink Floyd diubah warnanya menjadi biru sesuai warna merek Nivea untuk dipergunakan selama acara ini.

The road show was conducted in UI campus Depok, IPB campus Bogor, Esa Unggul university Jakarta, Sumarecon mall Bekasi, Semarang, Jogja & Bali.
Roadshow diadakan di berbagai tempat di berbagai kota yaitu kampus UI Depok, kampus IPB Bogor, kampus universitas Esa Unggul Jakarta, mal Sumarecon Bekasi, Semarang, Jogja & terakhir di Bali.

During the roadshow, they also made a music video. Here it is:
Mereka juga membuat sebuah video musik yang syutingnya dilakukan selama acara ini. Silahkan klik di bawah untuk melihat video musiknya:

Here are some pictures – Berikut foto-fotonya:

Nivea 2

The roadshow began in University of Indonesia (UI) campus, Depok – Acara roadshow dimulai di kampus UI Depok…

Nivea 3

This is the rector building of University of Indonesia – Di depan Gedung Rektorat UI…

Nivea 4

At Agriculture Institute of Bogor (IPB), Darmaga, Bogor – Di kampus Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor…

Nivea 5

Endah n Rheza performing live unplugged musical in IPB – Endah n Rheza di panggung musik unplugged di kampus IPB…

Nivea 6

Endah n Rheza at Sumarecon mall, Bekasi – Endah n Rheza di mal Sumarecon, Bekasi…

Nivea 7

Endah n Rheza at Sumarecon mall, Bekasi – Endah n Rheza di mal Sumarecon, Bekasi…

Nivea 8

Endah n Rheza at Sumarecon mall, Bekasi – Endah n Rheza di mal Sumarecon, Bekasi…

Nivea 9

Endah n Rheza at Sumarecon mall, Bekasi – Endah n Rheza di mal Sumarecon, Bekasi…

At University Esa Unggul, Jakarta - Di kampus Universitas Esa Unggul, Jakarta...

At University Esa Unggul, Jakarta – Di kampus Universitas Esa Unggul, Jakarta…

Nivea 10

Ready on tow 450km long to Semarang, Central Java – Siap-siap di atas truk gendong sejauh 450km menuju Semarang, Jawa Tengah…

Nivea 11

At Tugu Muda roundabout, Semarang – Di simpang Tugu Muda Semarang…

Nivea 12

In Semarang – Di Semarang…

Nivea 15

Endah n Rheza performing live unplugged musical in Jogja – Endah n Rheza di panggung musik unplugged di Jogja…

Nivea 13

Finally in Bali – Akhirnya tiba di Bali…

Nivea 19

At Mandara toll road, Bali – Di jalan tol Mandara, Bali…

Nivea 20

Endah n Rheza at one of quiet beaches in Bali – Endah n Rheza di salah satu pantai yang sepi di Bali…

Nivea 16

Nice blue sky in Bali – Langit biru yang asyik di Bali…

Nivea 23

Endah n Rheza took a break while shooting the music video in UI campus – Endah n Rheza waktu syuting video musik di kampus UI Depok…

Nivea 24

The interior of campervan is also turned into blue – Interior campervan juga diubah menjadi biru…

Nivea 21

The music video shooting in Bali – Suasana syuting video musik di Bali…

Nivea 22

Thanks to Endah, Rheza & Nivea – Terima kasih kepada Endah, Rheza & Nivea……

Sukamantri 16

Back to the original color: pink. Only brave men drive pink car – Kembali ke warna asli: pink. Hanya lelaki pemberani yang mau menyetir mobil berwarna pink….

If you are interested to rent this pink Samba style Campervan, please call +62 813 1031 4210 for inquiry.
Jika Anda berminat menyewa VW Campervan Samba pink ini, mohon telepon kami di nomor +62 813 1031 4210.

It’s not a town. It’s a Volkswagen Town.

VW town 13

The top view of Volkswagen town at night during a clear sky – Tampak atas dari kota Volkswagen di waktu malam yang cerah…

Not many people know, there is a little Volkswagen town, in scale of 1:87 (known as H0 scale), located inside the front room of my friend’s house, somewhere in Serpong, Southwest of Jakarta. The exact address is confidential, sorry. The owner’s name is Ananta “Karbit” Wijaya. Although his professional job is Technical Director of a private airliner, but his hobby is collecting die-cast models of Volkswagen, Vespa & Mini Cooper. Aircraft models are only few, not as many as cars.
Tanpa banyak orang tahu, ada sebuah kota kecil bernama Volkswagen, tepatnya sebuah maket/model kota berskala 1:87 (dikenal dengan skala H0), yang terletak di ruang depan rumah seorang kawan di bilangan Serpong, sebelah barat daya Jakarta. Alamat tepatnya rahasia, maaf. Nama pemiliknya adalah Ananta “Karbit” Wijaya. Walaupun profesinya sebagai Direktur Teknik di sebuah maskapai penerbangan swasta, tetapi hobbynya adalah mengumpulkan model die-cast mobil merek Volkswagen (VW), Vespa & Mini Cooper. Sementara model pesawat jauh lebih sedikit dibanding model mobil.

VW town 15

This is one of the two rail road hairpin turns in Volkswagen town. Do you notice a cable car? – Ini adalah satu dari dua tikungan tusuk-konde rel kereta di kota Volkswagen. Apakah Anda melihat kereta-gantung yang sedang melintas?

VW town 2

A VW T1 panel bus patiently stopping at a rail-road crossing. A nearby VW T1 bus tows a boat-trailer is also doing the same. The train passes by every 30 seconds encircling the whole town – Sebuah van panel VW T1 sabar menunggu di lintasan kereta. Sebuah van VW T1 lainnya di dekatnya yang menarik trailer berisi perahu juga melakukan hal yang sama. Kereta lewat setiap 30 detik mengelilingi pinggiran kota…

VW town 1

A row of VW T1 Samba bus – Sebuah barisan VW T1 Samba…

Why the town is so called Volkswagen Town? I think obviously because the cars in the town are only Volkswagen, in variety of models or types. No other car brands can be found here. There are 55 VW cars, four Vespa, four BMW motorcycles & two bicycles (maybe both are German made bicycles that I’m not aware of). Judging the architecture of the buildings, I would say this is a German town, or somewhere in Europe.
Kenapa dinamakan kota Volkswagen? Saya kira jawabannya sudah jelas, yaitu hanya mobil merek Volkswagen yang terdapat di kota ini, terdiri dari berbagai model / tipe. Kendaraan merek lain tidak ada. Total ada 55 buah mobil VW. Sementara sepeda motornya ada delapan buah; yaitu 4 buah Vespa & 4 buah BMW, plus dua buah sepeda (saya tidak tahu mereknya, mungkin merek sepeda Jerman). Dari arsitektur bangunannya, kemungkinan besar kota ini settingnya di negara Jerman, atau paling tidak di Eropa.

VW town 4

There are two ESSO gas stations in town. This is one of them. I have no idea why that empty Hebmuller is parked in the middle of the road. Maybe the fuel tank is really empty – Ada dua buah SPBU ESSO di kota & ini adalah salah satunya. Saya tidak mengerti kenapa ada Hebmuller kosong ditinggal di tengah jalan. Mungkin mogok karena tangki bensinnya benar-benar sudah kosong…

VW town 3

This is the 2nd gas station. An ESSO service panel van is parked nearby. Looks like this particular gas station serves only motor cycles. Meanwhile a Hebmuller & a Karmann-Ghia are passing by looking for other gas station – Ini adalah SPBU kedua. Sebuah panel van ESSO diparkir di dekatnya. Sepertinya SPBU ini hanya melayani sepeda motor. Sementara sebuah Hebmuller & sebuah Karmann-Ghia melewatinya sedang mencari SPBU yang lain…

Karbit started collecting the models ten years ago including the houses, trains, rail tracks, trees, people, animals, etc. mostly from abroad. He got a professional model builder from Bandung building & assembling the town. The layout of the town was designed by himself. The whole town took two months to be built back in mid 2014.
Karbit mulai mengkoleksi model-model tersebut sekitar 10 tahun yang lalu, termasuk bangunan, kereta api & relnya, pohon-pohon, orang-orangnya, binatang, dsb. yang kebanyakan didapat dari luar negeri. Maket kotanya dibuat oleh sebuah pembuat maket professional dari Bandung tetapi desain kotanya dibuat sendiri oleh beliau. Pembuatan maket kota ini memakan waktu dua bulan di pertengahan tahun 2014 lalu.

VW town 9

Several VW Type 181 (aka Safari aka The Thing aka VW Camat) are neatly parked, away from the traffic – Beberapa VW Type 181 (alias Safari alias The Thing alias VW Camat) terparkir rapih menghindari lalu lintas…

VW town 5

Volkswagen town has two RV parks. This is one of them. Look, there are three beautiful Dormobile campervans with that distinctive accordion pop-top roof…& a jogging man, too – Kota Volkswagen mempunyai dua taman untuk camping, piknik & parkir kendaraan campervan. Ini salah satunya. Lihat, ada tiga buah campervan Dormobile yang cantik dengan atap pop-top berbentuk akordionnya… & juga seorang yang sedang jogging…

The town is placed on a custom built table with some storage cabinets below, designed by Uci, his wife, who is a furniture designer. The size is a bit smaller than a pingpong table, about 2.4 x 1.2m. On the walls, there are several cabinets to store & to display other hundreds of car models with variety of scales. Total there are about 600 VW models in this room, plus many more of Mini Coopers, Vespa & aircrafts. This is a kind of heaven room you wish to have when you were a child.
Maket kota tersebut dibangun di atas sebuah meja, berukuran lebih kecil sedikit dari meja pingpong, yaitu 2.4 x 1.2m. Di bawahnya ada beberapa kabinet untuk penyimpanan. Mejanya didesain oleh sang istri, Uci, yang juga seorang desainer furnitur. Di dinding ruangan, digantung beberapa kabinet kaca untuk menyimpan & memajang ratusan model mobil lainnya dengan berbagai ukuran skala. Total ada sekitar 600 model mobil VW, plus puluhan model Mini Coopers, Vespa & pesawat terbang. Ruangan ini mungkin sebuah surga yang sering didambakan ketika kita masih kecil.

VW town 10

If you are hungry but lazy to cook, just go to the corner of the water fountain roundabout to find a foodtruck area. That’s also a favourite place for Polizei-men to find some food – Jika Anda lapar tetapi sedang malas memasak, maka datanglah ke salah sudut dekat bundaran air mancur di tengah kota ke tempat food truck. Tempat ini juga menjadi tempat favorit para petugas Polizei (polisi Jerman) mencari makan…

VW town 6

In Volkswagen town, there is a family who fanatically loves so much Beetle cabriolets. The father, the mother & the two children each have one of them – Di kota Volkswagen, ada sebuah keluarga yang sangat fanatik mencintai VW Beetles cabriolet. Sang ayah, ibu & kedua anaknya masing-masing mempunyai satu…

HO (as in Oscar) or H0 (as zero) is the most popular scale of model railway in the world. In H0 scale, 3.5mm (0.1378in) represents 1 real foot (304.8mm). H0 scale’s popularity lies somewhat in its middle-of-the-road status. It is large enough to accommodate a great deal of detail in finer models, more so than the smaller N & Z scales, & can also be easily handled by children without as much fear of swallowing small parts. Models are usually less expensive than the smaller scales because of more exacting manufacturing process in N & Z, & also less expensive than S, O & G scales because of the smaller amount of material; the larger audience & the resultant economy of scale also drives H0 prices down.
HO atau H0 adalah skala model yang paling popular untuk perkeretaapian di dunia. Di skala H0, 3.5mm (0.1378in) mewakili panjang 1 kaki (304.8mm). Skala H0 populer karena letaknya di tengah-tengah di antara ukuran skala lainnya. Ukurannya cukup besar untuk mengakomodasi detil dengan baik, lebih baik daripada skala N & Z yang lebih kecil. Juga lebih aman buat anak-anak karena tidak kekecilan yang bisa tertelan secara tak sengaja. Model ukuran ini umumnya lebih murah harganya dibanding skala N & Z yang lebih kecil yang memerlukan kepresisian lebih waktu diproduksi tetapi juga lebih murah daripada skala S, O & G karena material yang diperlukan lebih sedikit. Jumlah peminatnya yang lebih banyak & faktor ekonomis tadi semakin membuat harga skala H0 menjadi lebih turun.

VW town 8

Two Herbie-wannabe Beetles are ready to race at the drag-strip. Yes, the town has a racing circuit. No idea why one has number 55, instead of Herbie’s 53 – Dua buah VW Beetle Herbie-wannabe bersiap-siap balapan di lintasan drag. Betul, kota ini juga mempunyai sebuah sirkuit balapan. Tak jelas kenapa salah satunya bernomor 55, bukannya nomor 53 Herbie…

VW town 7

If you are lucky, you can see a rare ragtop split-oval Beetle crossing by the railroad intersection – Jika mujur, kita dapat melihat sebuah VW Beetle split-oval dengan rag-top yang langka yang baru melintasi rel kereta…

Thanks to the generosity of Karbit to show this town to anyone & to let me writing this article. All the best for him to expand the town larger very soon.
Terima kasih kepada Karbit yang murah hati membolehkan siapa saja untuk menikmati koleksinya ini & juga mengijinkan penulisan artikel ini. Semoga sukses mewujudkan rencananya memperluas kota Volkswagen segera.

VW town 17

There is a wedding celebration nearby the water fountain in down town. The wedding car is a pink Hebmuller – Sekelompok orang tengah merayakan perkawinan di dekat air mancur di tengah kota. Kendaraan pengantinnya ternyata sebuah Hebmuller berwarna pink…

VW town 16

The only train station in Volkswagen town – Satu-satunya stasiun kereta di kota Volkswagen…

VW town 14

There are hills on one side of the Volkswagen town, so the German engineers dug two tunnels for the rail road to go through – Di salah satu sisi kota terdapat perbukitan, sehingga insinyur-insinyur Jerman terpaksa harus membuat terowongan menembusnya untuk jalur rel kereta…

VW town 12

An aerial view of the Volkswagen town city center, where the local Samba bus club like to show-off their fleet – Tampak atas pusat kota Volkswagen. tempat favorit klub lokal Samba bus untuk mejeng…

VW town 11

A Type 3 parking area nearby a caravan – Tempat parkir VW Type 3 di dekat sebuah karavan …

VW town 18

The town model & the storage-display cabinets – Maket kota & kabinet penyimpanan di dinding…

Campervan camping in Gunung Pancar (again)

Here we are, camping in Gunung Pancar again. Gunung Pancar is a favorite place because it’s near from Jakarta, good access road, not too high elevation (only around 400m asl) & not far from a supermarket or convenience stores for the supplies.
Untuk kesekian kalinya, kami kembali camping di Gunung Pancar. Tempat ini sudah menjadi favorit karena letaknya yang dekat dari Jakarta, aksesnya mudah, elevasinya tidak terlalu tinggi (hanya 400m dpl) & tidak jauh dari supermarket atau toko retail.

Pancar M89 10In honoring to two of our college friends; one is still under a medical treatment & another one is having a vacation in Indonesia (he lives in Zurich, Switzerland) I gave them the idea to do an easy camping in Gunung Pancar, bringing a campervan; something they wanted to know. Another friend joining us with his 9yo son & 5yo female Doberman.
Untuk menghormati dua orang kawan kuliah dulu; satu sedang menjalani pengobatan & satu lagi sedang berlibur ke tanah air (beliau tinggal di Zurich, Swiss), saya mengajak mereka camping ke Gunung Pancar dengan menggunakan campervan, sesuatu yang sebelumnya membuat mereka penasaran. Satu kawan lagi bergabung membawa putranya berumur 9 tahun & anjing Dobermannya berumur 5 tahun.Pancar M89 9It was two days after Eid Al-Fitr; the Jagorawi toll road had a 1km long traffic jam before the Sentul City exit, the place was crowded with people, motorcycles & cars. Yes, it was still holiday season. Compared with the last time I came here, this time was completely different; too many visitors, littering garbage everywhere & bad traffic. The good news was we got the best camping spot; the same spot when we were here in January.
Waktunya hanya dua hari sesudah Lebaran; jalan tol Jagorawi macet parah 1km sebelum pintu keluar Sentul City, tempatnya penuh dengan pengunjung, sepeda motor & mobil. Betul, masih dalam masa liburan. Berbeda dengan waktu kami camping di sini di bulan Januari lalu, sekarang lokasinya terlalu ramai, sampah berserakan di mana-mana & lalu lintas yang padat. Kabar baiknya adalah kami mendapatkan spot camping yang terbaik, yang sama dengan camping terakhir lalu.

Pancar M89 3So we spot the Deep Purple campervan in the same position. This time we rigged up three tents on the flat field below. When the dusk coming by, many visitors disappeared. Only a few families setting up their tents nearby. We enjoying more as the place became quieter.
Kami memarkirkan Deep Purple di tempat yang sama. Lalu kami mendirikan tiga buah tenda di lapangan yang datar di bawahnya. Menjelang senja hari, banyak pengunjung yang kembali pulang. Hanya beberapa keluarga yang bercamping malam itu. Lokasinya pun menjadi tenang & lebih menyenangkan.

Pancar M89 4 Pancar M89 5

One thing to tell is regarding the female Doberman; Gamma. She is very well trained by her owner. She obeys her master’s commands to stay, to sit, to get into her portable kennel, to get out, etc. She didn’t really get distracted by the crowded. She was pretty much focusing to her master. And she was a very good guard dog, guarding us during the night. She didn’t bark at all during the stay but she could detect if somebody has a bad intention to us; what Cesar Millan always says ‘the negative energy’ that dogs feel & see. In this situation, without barking, she will show her stand & if the guy keep approaching, she will bite, a bad bite.
Ada satu hal yang menarik untuk diceritakan di sini yaitu anjing Doberman betina yang diajak camping bernama Gamma berumur 5 tahun. Kelihatan sekali bahwa anjing ini sangat terlatih. Gamma menurut apa saja yang diperintahkan oleh tuannya sekaligus pelatihnya untuk diam di tempat, duduk, untuk masuk ke dalam kandang portabelnya, untuk keluar kandang, dsb. Gamma tidak begitu terdistraksi oleh keramaian melainkan tetap fokus kepada pelatihnya. Anjing ini juga anjing penjaga yang baik, menjaga kami di waktu malam. Selama di tempat camping, Gamma tidak menggonggong sekalipun. Anjing ini dapat mendeteksi kalau ada orang yang berniat jahat, sesuatu yang sering disebutkan oleh Cesar Millan sebagai ‘energi negatif’ yang dirasakan & dilihat oleh anjing. Dalam situasi seperti ini, tanpa menggonggong, Gamma akan berdiri menghadang & jika orang berniat jahat tersebut tetap maju, maka Gamma akan menyerang & menggigit, yang dapat mengakibatkan cedera serius.

Pancar M89 6Bombay Matano 1

Next time, I will bring my Labrador & perhaps my Beagle camping with her & let them be trained by my friend.
Lain waktu, saya akan membawa serta Labrador saya & mungkin juga Beagle untuk camping bersama Gamma & akan memberi kesempatan kepada kawan saya untuk coba melatihnya.

Pancar M89 7Eating, cooking, talking, drinking, cooking, eating, talking, etc. that’s all we did spending the evening & the night. We also set up a bonfire & burned a few marshmallows. It was a dry season so we had no worries of getting rain.
Makan, memasak, ngobrol, minum-minum, memasak, makan, ngobrol, dsb. Hanya itulah yang kami lakukan bersama mengisi waktu sore & malam. Kami juga menyalakan api ungun & memanggang marshmallow. Di tengah musim kering, kami tidak kuatir akan turun hujan.

Pancar M89 8It was a pleasant quick & easy camping with my old friends. Usually I do camping with my family. We enjoy our friendship. By the next morning, we left the place back to Jakarta. Gunung Pancar, for sure, sooner or later, we’ll be back with the campervans.
Acara campingnya cukup singkat tetapi sangat berkesan diluangkan bersama-sama kawan lama. Biasanya saya camping bersama keluarga. Kami menikmati persahabatan ini. Di pagi harinya, kami kembali pulang menuju Jakarta. Cepat atau lambat, kami pasti akan kembali ke Gunung Pancar.

Pancar M89 1

Please call +62 813 1031 4210 for booking the Campervan.
Mohon telepon kami di nomor +62 813 1031 4210 untuk pemesanan Campervan.

Campervan camping party at Sukamantri

Sukamantri 11

Have you ever heard a camping ground called Sukamantri? I bet you have not & I wouldn’t blame you for that. Sukamantri is actually one of the best camping grounds for citizens of Jakarta (& also Bogor), but unfortunately it is not that popular compared to, for instance, Gunung Pancar & Gunung Bundar. I’d blame on the misled information regarding the difficulty to reach the place due to the road condition, written in many travelling blogs, saying that the road is very bad & we need a kind of SUV type vehicles. Well, this is 90% wrong. Yes, it’s not advisable to drive a sedan, although my sister drove a Suzuki SX4 (even it’s a crossover model but the ground clearance is not that different with sedan), but generally we can drive any types of cars. You can trust me on this.
Jika Anda belum pernah mendengar sebuah bumi perkemahan bernama Sukamantri, saya maklum. Sukamantri sebenarnya adalah salah satu bumi perkemahan terbaik untuk warga kota Jakarta (& juga Bogor), tetapi sayangnya tempat ini tidak begitu populer dibanding misalnya, Gunung Pancar & Gunung Bundar. Saya menyalahkan informasi yang ngaco yang banyak ditulis di blog tentang kondisi jalan ke sana yang sangat jelek & hanya bisa dilalui oleh kendaraan jenis SUV saja. Informasi ini 90% salah. Memang betul kalau sedan tidak disarankan (walaupun apakah memang ada orang mau memakai sedan pergi ke bumi perkemahan di gunung?), meskipun adik saya kemarin tenang-tenang saja membawa Suzuki SX4nya yang mirip sedan, tetapi secara umum semua jenis kendaraan bisa dipakai menuju lokasi ini. Percayalah.

Sukamantri 20The good things about Sukamantri:

  1. 60km away from Pasar Minggu, South of Jakarta, (& only 10km from Bogor) is considered as NEAR. This is much nearer from Gunung Bundar.
  2. Relatively a quiet place. Have you been to Gunung Pancar? It’s closer but it’s much more crowded & noisy.
  3. Quiet also means we don’t be bothered to book the place in advance. Just go show & a camping spot is always available.
  4. Our vehicle can enter the camping ground. This means we can camp using our Campervan & we can bring heavier logistics for more convenient camping.
  5. Comfortable elevation at 800m above sea level. At this elevation, the air is very fresh & the temperature is very nice because it’s not too cold.
  6. Toilets are many available in generally good condition with flowing clean natural spring water.
  7. Warung (food shops) are available, just in case we are too lazy to cook ourselves.
  8. The place is safe. It’s part of the training ground of the Army’s elite Kujang Raider unit. Nobody will commit a crime in an Army training ground, will it?
  9. Cellular phone signal is available, thought it’s on-off. Recommended provider: Telkomsel.

Sukamantri 9

Kenapa Sukamantri menarik?

  1. Jaraknya dekat. Dari Pasar Minggu (Jakarta Selatan) hanya 60km saja. Dari Bogor hanya 10km. Tempat ini jauh lebih dekat daripada bumi perkemahan Gunung Bundar.
  2. Tempatnya relatif tidak ramai. Pernahkah Anda pergi ke Gunung Pancar? Memang lebih dekat tetapi terlalu ramai & lebih berisik.
  3. Sepi juga berarti kita tak perlu untuk memesan tempat ini jauh-jauh hari. Cukup langsung datang & hampir selalu ada tempat tersedia.
  4. Kendaraan dapat masuk ke area camping. Ini berarti kita dapat menggunakan Campervan untuk camping & dapat membawa perbekalan yang banyak.
  5. Elevasi sekitar 800m di atas permukaan laut yang membuat temperatur nyaman tetapi tidak terlalu dingin. Udaranya pun segar.
  6. Toilet tersedia cukup banyak & tersebar. Kondisi umumnya terawatt. Air alam yang jernih tersedia mengalir tanpa henti.
  7. Warung makanan banyak tersedia, jika kita tak bersemangat untuk memasak.
  8. Tempatnya aman karena termasuk daerah latihan TNI-AD Kujang Raider.
  9. Sinyal hape ada walaupun intermiten. Disarankan: Telkomsel.

Sukamantri 14BWC

So, how to get there? It’s easy:

  1. First of all, if we have never been there or if we are not familiar with city of Bogor, please use the Google Map & search ‘Sukamantri Camping Ground’. It’ll show us a few alternative routes & it’ll give us the idea about where it is. Please remember, Bogor is a traffic-jammed city especially during weekends.
  2. If we drive, from wherever we come from, we need to reach the road of Jalan Raya Ciapus. This is what I recommend because it’s clearer & less junctions. If we see the Angkot no 3 Ramayana-Ciapus, then we are on the right track.
  3. We will notice at least two green-square road signs saying the Bumi Perkemahan Sukamantri (Sukamantri Camping Ground). One of the signs tells us to turn left to reach the camping ground.
  4. From the junction, the road becomes narrow but in good condition & straight. An intersection will be in front of us not far, just go straight. The good road will ends after 2km.
  5. A gravel road will follow; ascending & winding for about 2km. Some spots are too narrow for two cars, but majority two vehicles can pass each other. Don’t worry, the road is very empty.
  6. After passing a security portal & a big housing complex on the left (people say it’s owned by the family of Cendana), the road gets worse; from gravel becoming rocky road without asphalt. This is the misled information written in many blogs regarding the bad road condition, preventing many people to visit Sukamantri. In my opinion; yes the road is bad & not comfortable but as long as our car is not a regular sedan, then we can go through with no problem. Of course, keep the low speed to preserve the mood of the passengers aboard.
  7. After 1km, we will reach the Kujang Raider gate before entering the rain forest. Here, the road gets more ascending & winding under the canopy of jungle.
  8. After another 1km, we will reach the entrance post of the Sukamantri camping ground.

Sukamantri 21

Bagaimana menuju ke sana? Gampang saja:

  1. Pertama-tama, jika kita belum pernah ke sana atau jika kita tidak begitu mengenal Bogor, gunakanlah Google Map lalu cari ‘Sukamantri Camping Ground’. Kita akan diberi beberapa pilihan rute & jelas lokasinya berada dimana. Jangan lupa, Bogor biasanya parah oleh kemacetan terutama di akhir pekan.
  2. Jika kita membawa kendaraan, dari arah mana pun kita datang, tujuan kita adalah Jalan Raya Ciapus. Rute ini ini yang saya rekomendasikan karena lebih jelas & tak begitu banyak belokan & pertigaan-perempatan. Jika kita sudah melihat ada Angkot no 3 jurusan Ramayana-Ciapus, maka kita sudah berada di jalan yang benar.
  3. Petunjuk jalan & lokasi berbentuk kotak berwarna hijau akan jelas terlihat. Ikuti saja sampai memberitahukan kita untuk belok kiri ke arah Bumi Perkemahan Sukamantri.
  4. Lepas dari dari jalan raya, jalan menjadi lebih sempit tetapi bagus kondisinya & lurus. Ada satu simpang di depan, ambil jalan terus. Jalan bagus ini akan berakhir sekitar 2km.
  5. Selanjutnya jalan rusak, dilapisi kerikil & aspalnya sudah bertahun-tahun hilang. Jalan akan mulai menanjak & ada beberapa kelokan sepanjang 2km. Sempit tapi cukup untuk dua buah kendaraan berpapasan, namun ada beberapa spot yang lebih sempit lagi sehingga satu kendaraan akan harus mengalah. Walaupun begitu, jalanan sangat sepi. Sangat jarang ada kendaraan dari arah depan.
  6. Lalu kita akan sampai ke portal security & di dekatnya ada sebuah rumah besar dengan halaman luas & latar belakang Gunung Salak yang indah (kata orang itu adalah rumah milik keluarga Cendana). Selepas ini, jalan akan semakin jelek; jalan bebatuan tanpa aspal. Inilah yang banyak ditulis orang di berbagai blog sebagai jalan batu yang sukar dilalui kendaraan & menyebabkan tidak banyak orang mau berkunjung ke Sukamantri. Menurut saya; memang betul jalannya jelek & tidak nyaman tetapi sepanjang kendaraan kita bukan sedan, maka kendaraan apa pun akan dapat melaluinya dengan aman. Tentu saja, jalan pelan-pelan agar penumpang tetap merasa senyaman mungkin.
  7. Setelah 1km, kita akan sampai ke gerbang Kujang Raider sebelum memasuki hutan tropis. Dari sini, jalanan akan semakin menanjak & semakin berkelok-kelok di bawah kanopi hutan.
  8. 1km berikutnya, maka sampailah kita ke gerbang masuk kawasan bumi perkemahan Sukamantri.

Sukamantri 12

Tickets (very affordable):

  1. Entrance: Rp5,000.00/pax.
  2. Camping: Rp5,000.00/pax/night.
  3. Maintenance retribution: Rp5,000.00/pax.
  4. Parking: Rp10,000/car.

Sukamantri 10SBWC

Tiket (sangat terjangkau):

  1. Masuk: Rp5ribu/orang.
  2. Camping: Rp5ribu/orang/malam.
  3. Retribusi kebersihan: Rp5ribu/orang.
  4. Parkir: Rp10ribu/kendaraan.

Sukamantri 18What to do there:

  1. Camping – what a silly answer.
  2. Eating – another silly answer.
  3. Any outdoor activities: playing football, volleyball, frisbee, hide-n-seek, tug-o-war, etc.
  4. Trekking: to the near water fall, called Curug Parakan. The distance is only less than 1km but we must use a guide (easily available from one of the warung, the fee is only Rp50,000.00) because of the track conditions: steep uphill, narrow, on the edge of deep cliff on some spots, dense forest, some misled junctions, slippery river bed & rocks. During dry season, the water barely flows, but it’ll be nice during the wet season.
  5. Bonfire – the woods is available for only Rp50,000.00 good enough for a few hours fire during a cold night.
  6. Spotting the endangered Javan hawk-eagle (Nisaetus bartelsi). We will need a powerful monoscope for this as the birds are shy.
  7. Outbond – we need to book in advance for them to set up.
  8. Pre-wed, outdoor, nature, family & any other types of photography.
  9. etc.

Sukamantri 5

Apa saja yang dapat dilakukan di sana?

  1. Camping – sebuah jawaban yang nyeleneh.
  2. Makan-makan – lagi-lagi jawaban yang nyeleneh.
  3. Berbagai aktivitas outdoor: bermain bola, bola voli, frisbee, petak-umpet, tarik tambang, dsb.
  4. Trekking: ke air terjun terdekat, yang dinamakan Curug Parakan. Jaraknya dekat, kurang dari 1km saja, tetapi kita harus menggunakan jasa guide (yang gampang tersedia dari salah satu warung makanan & upahnya hanya Rp50 ribu saja) dikarenakan kondisi jalur: banyak tanjakan curam, berdampingan dengan jurang terjal, hutan yang rimbun, terdapat beberapa percabangan yang gampang membuat orang tersesat, jalur sungai kering & bebatuan yang licin. Di musim kering, debit air terjun sangat kecil tetapi akan cukup besar di musim hujan.
  5. Api ungun – kayu bakar dapat dipesan dari warung seharga Rp50ribu, cukup beberapa jam memberi kehangatan di malam yang dingin.
  6. Memperhatikan burung yang hampir punah bernama Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Burung elang berjambul ini dipercayai sebagai cikal burung garuda. Untuk dapat melihatnya di sarang di atas pohon, kita memerlukan sebuah teropong monoscope yang kuat.
  7. Outbond – perlu pemesanan di depan.
  8. Fotografi: pre-wed, outdoor, alam, keluarga & jenis lainnya.
  9. Dan sebagainya.

Sukamantri 16Sukamantri 19

Sukamantri is very good place to visit using a VW Campervan. The VW bus suspension system performs perfectly on this kind of bad rocky road. Personally I think it’s even better than the modern VW SUV suspension that I drove a week before for surveying. We feel a relatively smooth & comfortable ride along this road. You can set up the camping tent right next to the Campervan. Last time we were there, we made-over the place became a party camping-picnic ground…
Sukamantri adalah tempat yang sangat bagus untuk disambangi dengan VW Campervan. Sistem suspensi VW Bus ini bekerja sempurna di atas jalanan jelek berbatu semacam ini. Secara pribadi saya menilai malahan suspensinya lebih baik daripada suspensi VW SUV yang modern seperti yang saya kendarai seminggu sebelumnya waktu survey lokasi. Kita akan merasakan perjalanan yang cukup halus & nyaman walaupun jalannya sangat jelek. Di lokasi, kita dapat mendirikan tenda tepat di sampingnya. Waktu kami di sana, kami mengubah tempat perkemahan menjadi semacam tempat pesta & piknik.

Sukamantri 4

Sukamantri 17

We can also visit the place only for a day picnic, no need to camp overnight. Thanks to the short distance from Bogor & Jakarta.
Kita juga dapat mengunjungi tempat ini cukup untuk piknik seharian, tanpa menginap. Jaraknya relatif dekat dari Bogor & Jakarta.Sukamantri 6Sukamantri 15

So, if you are interested to go to Sukamantri using our Campervans, please call +62 813 1031 4210 for booking.
Jika Anda tertarik ke Sukamantri menggunakan Campervan kami, mohon telepon kami di nomor +62 813 1031 4210 untuk pemesanan.

Sukamantri 3

The video on YouTube:

 

Camping to Wisata Capolaga, Subang

Cardamom (/ˈkɑrdəməm/), sometimes called cardamon, is a spice made from the seeds of several plants in the genera Elettaria & Amomum in the family Zingiberaceae.
Kapulaga / Capolaga adalah nama Indonesia untuk Cardamom, yaitu sejenis rempah-rempah yang dihasilkan dari biji beberapa tanaman dari genera Elettaria dan Amomum dalam keluarga Zingiberaceae (keluarga jahe-jahean).

Capolaga 5

The participants of Capolaga Camping event conducted by Alumni of ITB – Para peserta acara Camping di Capolaga dari Alumni ITB. Camping bersama ini merupakan acara rutin.

It was in June 2015, a dry season month, on the last weekend before the fasting month of Ramadhan began, we took the two Campervans (Red Hot Chili Peppers & Deep Purple) for camping. There were 36 people in the group consisted of our whole family, with some closed friends of our daughter & friends of ITB alumni with their families.
Pada awal bulan Juni setelah memasuki musim kering, pada akhir pekan terakhir sebelum bulan puasa, kami membawa dua Campervan (Red Hot Chili Peppers & Deep Purple) pergi camping. Rombongan terdiri dari 36 orang yaitu kami sekeluarga beserta beberapa teman dekat anak kami & beberapa alumni ITB bersama keluarga & sanak saudaranya.

Capolaga 11

The Block F camping ground occupied by tents & Campervans – Area camping Blok F diisi oleh tenda-tenda & Campervan.

We chose a new outdoor place called Wisata Capolaga, located about 3km away from the popular hot spring Ciater (north of Bandung), Subang, West Java. The main attractions of the area are the three natural water falls, which all of them are friendly enough for us to take shower below them, & also several camping grounds.
Kami memilih sebuah tempat wisata outdoor yang relatif baru bernama Wisata Capolaga. Lokasinya sekitar 3km dari perempatan Ciater (sebelah utara Bandung), kabupaten Subang. Atraksi utama tempat ini adalah tiga buah air terjun (disebutnya Curug dalam Bahasa Sunda) yang semuanya dapat dijadikan tempat bermandi, selain beberapa area camping.

Capolaga 6

Recharging the batteries using solar cells – Mengising ulang batere dengan memanfaatkan sinar surya.

To get there is not difficult. From Pasar Minggu, South of Jakarta, it is about 135km away via Purwakarta-Wanayasa, or 145km via the new Cipali toll way & Subang, or 194km via Bandung-Lembang. At that time, the new Cipali toll way was not opened yet, so from Jakarta we took the Cikampek toll way, exited in Jatiluhur, went through city of Purwakarta to Wanayasa town, got in to the popular Jalan Cagak junction, turned right about 9km uphill until we reached the intersection of Ciater. Take the right turn & the location is 3km away from there. Please drive cautiously since there is a narrow & continuously straight downhill road more than 500m long through a village before reaching the location.
Menuju lokasi tidaklah susah. Dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jaraknya sekitar 135km jika melalui Purwakarta-Wanayasa, atau 145km lewat jalan toll baru Cipali & kota Subang, atau 194km via kota Bandung & Lembang. Pada waktu kami ke sana awal bulan Juni, toll Cipali belum dibuka, sehingga kami mengambil jalur Purwakarta-Wanayasa; dari toll Purbaleunyi exit di pintu toll Jatiluhur, masuk ke kota Purwakarta, ke arah kota kecamatan Wanayasa, sampai muncul di pertigaan Jalan Cagak. Belok kanan menanjak sekitar 9km sampai ke perempatan Ciater. Masuk ke kanan & lokasinya berjarak sekitar 3km. Mohon mengemudikan kendaraan dengan berhati-hati waktu melewati jalan sempit pedesaan yang menurun panjang & lurus sejauh lebih dari 500m sebelum sampai ke lokasi.

Capolaga 8

Red Hot Chilli Peppers campervan at the Cikampek toll road – Campervan Red Hot Chilli Peppers di jalan toll Cikampek.

We stayed at the Block F camping ground, nearby Gate 2; the only camping ground where we can park our cars in. Getting near to our cars means we can bring additional extra equipment & more food & water for more convenience.  The maximum capacity of the Block F is 50 people, without the cars. If you park the cars inside, then the capacity is reduced. However, there is a parking lot just next to it. The elevation is about 810m asl. The temperature range is 20-31 Centigrade.
Kami bercamping di Blok F, dekat Gerbang 2; satu-satunya area camping dimana kita dapat membawa mobil masuk. Berada dekat dengan mobil berarti lebih banyak peralatan camping, makanan & minuman yang dapat dibawa untuk kenyamanan kita. Maksimum kapasitas area camping Blok F adalah 50 orang, tanpa mobil. Jika mobil diparkir di dalam, maka kapasitas orangnya akan berkurang. Untuk itu ada tempat parkir kendaraan tepat di sebelahnya. Elevasinya adalah 810m di atas permukaan laut. Temperatur berkisar dari 20-31 derajat Celcius.

Capolaga 8

From this angle, we can see the Block F camping ground clearer – Dari sudut kamera ini, area camping Blok F terlihat lebih jelas.

Block F is located nearby a public toilet (MCK), less than 100m away. There are five bathrooms with squatting type toilet & one bathroom with sitting type toilet. Most of the rooms have light & all have running fresh natural water. Next to the MCK is a musholla.
Blok F tempatnya berdekatan dengan MCK umum, kurang dari 100m saja jaraknya. Terdapat lima buah kamar mandi dengan toilet jongkok & satu buah kamar mandi dengan toilet duduk. Semuanya tersedia dengan air segar pegunungan yang terus-terusan mengalir & juga dilengkapi dengan lampu. Tepat di sebelah MCK terdapat sebuah musholla.

The security gate & office are also located not too far from the Block F, together with the main parking lots & food & souvenirs shops. During weekend, please be prepared that the area will be crowded of visitors & many cars will get in & out back & forth. However, Block F is little separated away & we still keep the privacy.
Gerbang sekuriti & kantor staf juga letaknya berdekatan dengan Blok F, tak jauh dari tempat parkir utama kendaraan & warung-warung suvenir & makanan. Walaupun begitu, Blok F letaknya terpisah sehingga privasinya cukup terjaga.

Capolaga 1

Goa Badak waterfall – Curug Goa Badak

From there, walking down the hill about 5-10mins, we will get to the 3rd water fall. It’s called Curug Goa Badak (Curug = waterfall, Goa = cave, Badak = rhino, so please interpret yourself). This is the most downstream waterfall out of three; the biggest one, less than 10m tall & the only one with a shallow pool beneath it for us to swim, to play water or to bath. Since it is the closest one to the  parking lot, the waterfall is the most crowded one with visitors.
Dari area tersebut, jalanan menurun sekitar 5-10menit, kita akan sampai ke curug (yang artinya air terjun) no 3. Namanya Curug Goa Badak. Dari tiga buah curug, yang ini letaknya paling di hilir, paling besar, tingginya kurang dari 10m & satu-satunya yang ada kolamnya yang tidak dalam untuk bermain air, berenang & mandi. Karena letaknya paling dekat ke tempat parkir umum, curug ini pun menjadi yang paling ramai dikunjungi orang.

Capolaga 4

Sawer waterfall – Curug Sawer.

From there, walking uphill about 400m to reach the 2nd waterfall; the smallest but the tallest (about 30-40m), called Curug Sawer. During the dry season where the water flow is small, it’s convenient to take a shower beneath it. There are several locations for camping nearby this waterfall. It’s on a valley & the ground is flat. In my opinion, this is the best location for camping, as long as you have no problem carrying all your camping gears, food & water  400-500m away from your car.
Dari situ, jalan ke atas sekitar 400m, kita akan sampai ke curug kedua; curug yang paling kecil tetapi paling tinggi (sekitar30-40m) yang dinamakan Curug Sawer. Pada waktu musim kering, debit air kecil sehingga kita dapat bermain pancuran di bawahnya dengan nyaman. Di sekitarnya ada beberapa lokasi camping di dasar sebuah lembah yang relatif rata. Menurut opini penulis, area di sini adalah lokasi terbaik untuk camping, sepanjang kita tak masalah membawa peralatan camping, makanan & air sejauh 400-500m dari tempat parkir kendaraan.

Capolaga 9

The riverside camping ground near by Curug Sawer – Area camping pinggir sungai di dekat Curug Sawer.

Capolaga 2

Karembong waterfall top – Curug Karembong atas.

Walk further uphill about 300m to reach the most upstream waterfalls; the most spectacular ones, the 1st waterfall. Yes, actually there are two water falls in one location & to distinguish them, let me call it Curug Karembong top & Curug Karembong bottom (Karembong = scarf). I call it the most spectacular one due to the contour of the rock walls shaped from different layers of volcanic rocks. If you are brave enough, you can try to climb up the walls. If you are strong enough, you can take a shower beneath the top waterfall one, at least 30m tall, letting your body & head get stomped by the falling water. The water is cold & the wind draft will make it even colder.
Kalau kita jalan lagi ke arah hulu, maka setelah 300m kita akan sampai ke curug no 1 yang paling tinggi elevasinya & yang paling spektakuler. Sebetulnya curug ini terdiri dari dua buah curug yang terpisah atas-bawah sehingga penulis sebut saja namanya Curug Karembong atas & Curug Karembong bawah. Karembong adalah Bahasa Sunda yang artinya selendang. Disebut paling spektakuler karena kontur dinding batu vulkaniknya yang terbentuk secara berlapis-lapis & bergerigi. Jika cukup berani, maka Anda dapat mencoba memanjat dinding batu ini. Jika Anda cukup kuat, maka cobalah mandi di bawah kucuran air di curug yang atas, tingginya sekitar 30m. Airnya dingin & hempasan angin akan membuat tubuh Anda makin kedinginan.

Capolaga 3

Karembong waterfall bottom – Curug Karembong bawah.

For going back, you can choose to walk through tea plantation, mostly down hill trekking.
Untuk kembali, cobalah jalan balik melewati kebun teh yang treknya relatif menurun.

Capolaga 10

A bamboo bridge connecting the camping grounds & waterfalls – Sebuah jembatan bambu menghubungkan area camping & curug.

The price:

  1. Block F rental (50pax): Rp500,000.00/night.
  2. Entrance ticket: Rp9,000.00/person (weekends & public holidays) or Rp7,000.00/person (weekdays).
  3. Car parking: Rp5,000.00/night.
  4. Electricity (optional): Rp125,000.00/night, including several lights & a few 220V power outlets.
  5. Tents (optional); dome tent (5pax): Rp150,000.00/night, kelabang tent (10pax): Rp200,000.00/night, rofi tent (12pax): Rp250,000.00/night, peleton tent (45pax): Rp1,500,000.00/night. The tents will be rigged up on site.
  6. Individual entrance (less than 20pax): Rp25,000.00/pax/night.
Capolaga 13

The Campervans at the Block F camping ground – Campervan di area camping Blok F.

Harga-harga:

  1. Sewa Blok F (50 orang): Rp500,000.00/malam.
  2. Tiket masuk perorangan: Rp9,000.00 (akhir pekan & hari libur) atau Rp7,000.00 (hari kerja).
  3. Parkir kendaraan: Rp5,000.00/malam.
  4. Listrik & penerangan (pilihan): Rp125,000.00/malam, termasuk beberapa buah lampu & colokan listrik 220V.
  5. Sewa tenda (pilihan); tenda dome (kapasitas 5orang): Rp150,000.00/malam, tenda kelabang (10orang): Rp200,000.00/malam, tenda rofi (12orang): Rp250,000.00/malam, tenda peleton tentara (45orang): Rp1,500,000.00/malam.
  6. Tiket perorangan (kurang dari 20orang): Rp25,000.00/orang/malam.
Capolaga 14

Deep Purple campervan is overcoming the uphill exit way of the Block F camping ground – Campervan Deep Purple sedang menanjak di jalan keluar area camping Blok F.

For more information, please visit their website: http://www.wisatacapolaga.com.
Untuk informasi lebih lanjut, mohon kunjungi situsnya: http://www.capolaga.com.

Capolaga 15

Red Hot Chilli Peppers campervan’s turn going uphill to exit the Block F camping ground – Campervan Red Hot Chilli Peppers sedang menanjak keluar area camping Blok F.

Please call +62 813 1031 4210 for booking the Campervan.
Mohon telepon kami di nomor +62 813 1031 4210 untuk pemesanan Campervan.